|
|
![]() Sedikitnya 100 KK mengikuti upacara penyucian bagi leluhur tersebut. Ritual digelar di dekat pura segara Tawangalun, Pesanggaran,sekitar 70 kilometer arah selatan kota Banyuwangi. Meski baru pertama kali, umat Hindu yang seluruhnya suku Jawa tidak kikuk mengikuti prosesi ritual. Pasalnya, kegiatan ini dibimbing langsung beberapa pemangku dari Bali. Upacara dipuput oleh empat pandita. Masing-masing Ida Pandita Mpu Nabe Reka Darmika Sandiyasa dari griya Kertasari, Kayu Mas, Denpasar, Ida Pandita Dharmika Sandi Kertayasa dari griya Anomsari, Pesanggaran, Banyuwangi, Ida Pandita Mpu Rastra Guna Wibawa dari griya Amertha Kusuma, Kaliakah, Negara dan Ida Sri Bhagawan Dharmika Tanaya dari griya Jimbar Giri Sari, Brambang, Negara. Meski mengadopsi ritual dai Bali, ngaben massal kemarin tetap menggunakan tradisi Hindu Jawa. Beberapa banten terlihat masih menggunakan adat Jawa. Termasuk biaya yang dibebankan kepada masing-masing umat. Mereka hanya dibebani Rp 100 ribu per KK. 'Ini kita sesuaikan dengan kemampuan umat disini,' kata Ketua PHDI Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi yang juga ketua pantia, Heri Sungkono. Layaknya di Bali, urutan ngabel massal diawali dengan berbagai ritual pembuka. Seperti, mebersih, ngringkes,ngajum kajang,mesudi bumi hingga prosesi pembakaran dan nglarung abu ke laut selatan. Seluruh prosesi ini dilakukan dengan kompak oleh masing-masing keluarga yang mengikuti ngaben tersebut. Ngaben pertama kali ini dilakukan secara simbolis atau ngaben kering. Artinya, umat tidak membongkar setra masing-masing anggota keluarga yang diaben. Ini untuk menghormati anggota keluarga lainnya yang memeluk agama lain. Selain itu, setra bagi umat Hindu masih bercampur dengan pemeluk agama lain. 'Kita menghormati umat yang lain,sehingga pembongkaran setra tidak dilakukan,' sambung Sungkono. Menariknya kegiatan ini, selain diikuti umat Hindu, beberapa umat Muslim yang keluarganya di aben ikut mengikuti ritual hingga selesai. Usai sembahyang di pengarong, masing-masing anggota keluarga mengarak simbol arwah yang diaben menuju setra. Diiringi alunan ble ganjur, umat berjalan pelan menuju pinggir pantai. Ritual ini menjadi tontotan menarik umat lain yang tinggal di sekitar lokasi pura. Mereka ikut menyaksikannya hingga upacara selesai. Tiba di setra, ritual dilanjutkan dengan pembakaran. Selanjutnya, abu dilarung bersama-sama di pantai. Salah satu peserta ngaben dari Bali, I Wayan Kantun mengaku senang dengan adanya ngaben massal. Ini sebagai bentuk peningkatan srada umat Hindu di Jawa. 'Kami ikut ngaben mertua yang asli Banyuwangi. Kegiatan ini cukup membantu umat,' ujar pria yang tinggal di Denpasar ini. Selain dari Bali, ngaben kemarin juga diikuti beberapa keluarga dari Jember,Jawa Timur. Sisanya daah umat dari beberapa kecamatan di Banyuwangi selatan. Sementara itu Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi I Wayan Artha, AMk., mengatakan tradisi ngaben massal diharapkan bisa ditiru oleh umat Hindu lainnya di Banyuwangi. Ritual ini juga akan dimasukkan dalam salah satu agenda Lokasabha Kabupaten yang akan digelar bulan depan. 'PHDI menyambut baik ritual ini. Apalagi biayanya tidak memberatkan umat,' tandasnya.
|
|||
| Last Updated ( Monday, 23 June 2008 10:18 ) |
Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.
Go to forum[[Hinduism]] preaches that there is only ONE god, who has many different manifestations. Hinduism is the only religion based on following a God who was actually seen by millions of people in the past and who will be seen again by millions in the future. God appeared as Lord Ram about 2 million years ago, as Lord Krishna 5000 years, as Lord Buddha 2500 years ago, and will appear again as Lord Kalki in 427,000 years time. |
Seorang datang kepada gurunya dan berkata, "Mahaguru, ajarlah saya." Dan guru itu berkata, "Pergi dan lepaskan apa yang telah engkau pelajari, lalu datanglah kepadaku dan aku akan dapat mengajarmu!" |