Home Dharma Wacana Meraih Kasih Tuhan
Meraih Kasih Tuhan PDF Print E-mail
Written by IB.Heri J.   
Monday, 09 April 2007 17:10

Manusyam durlabham prapya vidyullasitacancalam, Bhavaksaye matih karya bhavopakaranesu ca.
 
(Artinya: Kelahiran menjadi orang ( manusia ) pendek dan cepat, keadaannya itu tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh, oleh karena itu gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian dharma (kebenaran/kebajikan), yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga (Sarasamuscaya, sloka 8).

KITAB suci Bhagawadgita menyebutkan dua sifat manusia, yaitu sifat-sifat ke-dewata-an (daivi sampat) dan sifat-sifat ke-raksasa-an (asuri sampat). Bila sifat manusia yang menonjol ke-dewata-an (daivi sampat), maka orang tersebut akan menunjukkan sifat-sifat dan prilakunya baik, seperti ; berani membela kebenaran, pemaaf, teguh, murni, bebas dari kedengkian dan kesombongan. Sebaliknya bila ke-raksasa-an (asuri sampat) yang dominan, maka orang tersebut akan menunjukkan sifat-sifat dan prilakunya yang buruk, seperti ; berlagak, angkuh, membanggakan diri, marah dan juga kasar serta bodoh.

Karakter negatif/buruk seseorang bisa diperbaiki dengan berbagai cara di antaranya melatih seseorang untuk selalu berbuat baik, menanamkan cinta kasih, Melatih kebiasaan baik memang tidak mudah, namun sepanjang ada kemauan untuk berguna bagi sesama manusia, bangsa, negara dan agama, maka karakter yang buruk dapat menjadi sifat-sifat yang baik dan mulia. Jangankan manusia, dengan pendidikan yang baik, memberikan kasih sayang, seekor anjing atau binatang buas sekalipun pun dapat dididik menjadi binatang yang dapat berguna bagi kehidupan manusia.

Timbulnya kesadaran pada diri seseorang untuk dapat berguna bagi sesama manusia, bangsa, negara dan agama merupakan awal kebangkitan memaknai arti penjelmaan sebagai manusia yang sesungguhnya amat teramat singkat. Timbulnya kesadaran belumlah cukup tanpa dibarengi dengan usaha kerja keras. Kerja keras dan ketekunan untuk bekerja merupakan hal yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan ini. Tanpa kerja keras, keberhasilan dan kesuksesan sulit kita dapatkan. Seorang seniman, olah-ragawan, politikus, selebritis, rohaniawan dan sebagainya, umumnya sukses karena bekerja keras dan latihan. Dengan telah tercapainya kesuksesan itu, seseorang dapat memetik bermacam-macam buah di dunia berupa; kekayaan harta benda, uang, emas, tanah berhektar-hektar, meraih kehormatan, kedudukan, jabatan, kewibawaan dan sebagainya. Namun Tuhan bersabda dalam Gita bahwa semua ini bersifat sementara, nilainya tidak kekal. Satu-satunya hal yang paling permanen dan mempunyai nilai sejati di dunia adalah kasih Tuhan. Manfaat apakah yang akan kita peroleh bila dekat dan dikasihi Tuhan ?. Bila kita duduk di dekat lampu, kita mendapat sinarnya yang terang benderang, sehingga kita dapat melakukan sejumlah kegiatan yang bermanfaat pada malam hari. Bila kita memasuki ruangan atau kamar ber- AC, kita akan mendapat angin sejuk sehingga panas yang meresahkan sirna. Saat musim dingin tiba, jika kita duduk dekat perapian, kita terlindung dari rasa dingin yang mencekam.

Contoh-contoh tersebut dapat ditarik pengertian bahwa dalam setiap keadaan, suatu sifat dihapuskan lalu diganti oleh sifat yang lain. Demikian pula bila kita dekat dengan Tuhan, Tuhan akan dekat dengan kita, serta sekaligus akan memperoleh kasih-Nya, dan segera semua sifat buruk akan lenyap diganti oleh sifat-sifat baik yang merupakan pengejawantahan Tuhan. Untuk meraih kasih Tuhan akan sia-sia, bila memuja Tuhan disatu pihak, tetapi dilain pihak merugikan atau menyakiti mahluk lain. Hal itu hanya menunjukkan kedunguan seseorang dan tidak akan pernah maju dalam bidang spiritual. Ibarat menanam benih unggul, tanpa menyiangi dan membersihkan rumput liar di ladang, tanah yang tidak subur, penuh hama, bagaimana mungkin benih itu bisa tumbuh. Kalau pun bisa tumbuh, maka dapat dipastikan dia akan kerdil atau merana atau bahkan rusak di serang hama. Demikian pula tanpa menghilangkan rerumputan liar egoisme / ahamkara dari dalam diri, segala usaha pengamalan spiritual akan sia-sia.

Setelah benih ditanam, airnya adalah air mata penyesalan dosa harus dipakai menyiram, pupuknya adalah rasa kasih sayang terhadap semua mahluk ciptaan Tuhan. Dengan air dan pupuk seperti itu, dapat diyakini bahwa benih itu akan tumbuh subur walau lambat namun pasti. Maka manusia atau manawa akan menjadi madhawa 'dewa', nara ' manusia ' menjadi narayana ' Visnu', tidak jatuh menjadi narapidana ' orang yang terhukum. Hidup manusia yang relatif singkat, gunakan untuk mengembangkan sifat-sifat yang terpuji (daivi sampat) dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan memperoleh kasih dan rahmat Tuhan.


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free social bookmarking plugins and extensions for Joomla! websites!
Last Updated ( Sunday, 06 April 2008 08:35 )
 

Artikel Terkait

Member Forums

Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.

Go to forum
Visit Indonesia Year 2008