Home Dharma Wacana Keimanan
Keimanan PDF Print E-mail
Written by I Made Murdiasa, S.Ag   
Sunday, 18 February 2007 18:36

Rasa  takut sesungguhnya adalah sesuatu yang wajar, karena rasa takut adalah naluriah. Tetapi jika ketakuan itu telah berubah menjadi kecemasan, maka orang yang mengalaminya telah megidap penyakit, tepatnya penyakit pikiran.

Pikiran yang dibelenggu oleh kecemasan tidak pernah akan mendapat ketenangan dan kedamaian. Keimanan adalah obat yang paling mujarab untuk mengusir ketakutan dan kecemasan. Iman adalah kekuatan terbesar karena di dalamnya ada kemahakuasaan Tuhan. Mantram yang terucap secara benar dan dihayati maknanya, akan melindungi orang yang mengucapkanya. Sesungguhnya mantram adalah kawaca (baju), panjara (benteng) yang berfungsi sebagai pelindung orang-orang yang berpasrah diri kehadapan Tuhan lewat sarana doa-doa yang diucapkannya. Dengan demikian, sikap dan suasana bhatin dalam berdoa memegang peranan utama. Tidak akan ada mujizad apa-apa jika mantram, doa, ayat-ayat kitab suci diucapkan dengan suara manis, tetapi hati tidak terkendali. Apalagi doa yang diteriakkan dengan suara kasar, mata melotot, tangan mengepal, dan kaki menginjak orang lain. Inilah yang umum terjadi dewasa ini.

Sesungguhnya rasa takut adalah penyakit yang paling sulit diobati pada hati manusia. Karena itu kitab Atarwaweda mengajak kita untuk selalu berdoa agar bisa terhindar dari rasa takut itu. Abhayam mitrad abhayam amitrad (Atarwaweda XIX,15.6), semoga kami tidak takut kepada lawan maupun kawan. Apalagi sekarang ini tidak jelas mana kawan dan mana pula lawan, karena semua orang mengaku reformis, semua orang mengaku membela rakyat, walaupun ujung-ujungnya membela golongan dan dirinya sendiri. Akhirnya kita hanya bisa berharap, sarwa asa mama mitram bhawantu (Atarwaweda XIX,15.6), semoa semua arah bersahabat kepada kami. So asman abhayatamena nesat (Rg weda, X.17.5). semoga Tuhan membimbing kami menuju jalan yang paling aman. Selain doa atau upaya spiritual untuk mengikis rasa takut hendaknya dibarengi dengan tindakan nyata. Yaitu dengan menumbuh kembangkan sikap tidak membenci kepada semua makhluk, sikap kasih untuk semuanya. Sehingga didalam kitab Atarwaweda XIX,14.1 di jelaskan, Adweshta sarwa bhutanam, jangan membenci sesama makhluk. Asapatnah pradiso me bhawantu, na wai tva dvismo abhayam no astu, semoga semua arah bebas dari lawan-lawan kepada kami. Kami tidak membenci siapa pun, oleh karena itu semoga kami bebas dari setiap bahaya. Dengan bersenjatakan prema (kasih) dan Ahimsa (anti kekerasan) setiap orang akan mampu menghadapi suasana gonjang-ganjing dewasa ini. Dalam kasih dan anti kekerasan ada hubungan dengan Tuhan. Dengan demikian, siapa saja yang berprilaku kasih dan anti kekerasan sesungguhnya telah bersekutu dengan Tuhan. Persekutuan dengan Tuhan itulah yang mejadi kekuatan yang terampuh di dunia ini.

Keyakinan terhadap Tuhan diawali dengan keyakinan terhadap diri sendiri. Tidak akan pernah ada keyakinan terhadap Tuhan jika seseorang tidak percaya kepada dirinya sendiri. Keyakinan terhadap diri sendiri diawali dengan penguasaan pikiran. Disini ada kesamaan pandangan antara Slokantara dengan sebuah Doktrin Amerika kuno, "Kita dapat menjadi apa saja yang kita inginkan jika kita mau bekerja keras untuk mencapai cita-cita itu, memiliki karakter yang kuat, ditambah iman kepada Tuhan dan kepercayaan terhadap diri sendiri". Inilah resep untuk mengikis rasa takut yang selama ini menyelimuti pikiran seseorang. Pikiran sesungguhnya adalah gelombang, sehingga sangat tepat jika disebut sebagai gelombang pikiran. Sebagai gelombang, pikiran akan dapat berinterferensi dengan gelombang-gelombang yang lain yang memiliki frekuensi yang sama. Pikiran dapat menggetarkan pikiran orang lain, sebagaimana gelombang sinar yang dapat bergerak hingga jutaan tahun sebelum menemukan pemantulnya, demikianlah halnya dengan pikiran itu. Suatu saat pikiran akan menemukan gelombang pikiran yang selaras dengannya, sehingga dapat diterima dengan simpatik. Karena itu tempat tinggal kita juga perlu mendapat perhatian, jika tempat dimana kita tinggal sudah tidak menjanjikan kedamaian maka tidaklah salah jika kita mencari tempat yang bisa menenangkan pikiran, seperti dengan bertirtha yatra, berlibur kedaerah atau tempat yang masih menjanjikan kedamaian.

Sorga dan Neraka bukan jauh dari kita, melainkan berada dalam diri kita sendiri. Kondisi itu sangat tergantung pada keterikatan pikiran kita kepada Tuhan. Tuhan selalu dekat dengan kita dan kedekatan itu akan semakin erat jika pikiran dan tingkah laku senantiasa diabdikan kepada-Nya demikian pula sebaliknya, tergantung dari pikiran dan perbuatan kita sendiri. Setiap orang yang mau dan mampu mengembangkan rasa cinta kasih di dalam dirinya, maka mereka semua akan dapat hidup secara damai, namun jika permusuhan yang ada, tanpa ada yang mau mengakui siapa yang salah maka kita harus yakin bahwa bagaimanapun kebenaran pasti selalu menang / Satyam Eva Jayate.

Dengan demikian dapat kita pastikan bahwa orang-orang yang kaya iman, orang yang berlimpah dengan cinta kasih tidak mungkin akan digugurkan oleh hukum alam. Sebab sesungguhnya cinta kasih adalah sifat yang paling hakiki dari manusia dan alam sebagai sebuah kesatuan. Demikianlah keimanan, yang merupakan obat yang paling mujarab untuk mengusir ketakutan dan kecemasan yang menyelimuti pikiran manusia.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free social bookmarking plugins and extensions for Joomla! websites!
Last Updated ( Sunday, 06 April 2008 08:36 )
 

Artikel Terkait

Member Forums

Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.

Go to forum
Visit Indonesia Year 2008