| Pura Puserin Jagat |
|
|
|
| Written by Agni Homa | |||
| Thursday, 14 September 2006 06:14 | |||
|
Pura Puserin Jagat atau Pura Puserin Tasik merupakan salah satu pura yang memiliki nilai sejarah dan purbakala yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali di masa lalu. Dengan berbagai peninggalan sejarah yang ada di Pura Puserin Jagat ini semuanya bercirikan Siwa. Hal ini diketahui dari beberapa arca peninggalan yang ada di pura tersebut. Aspek yang kroda (menakutkan) sebagaimana diperlihatkan oleh arca-arca yang bercirikan Bhairawa, Ganesa dan Durga. Dan, Pura Puserin Jagat juga merupakan sumbu utama Bali. Bagaimana sejarah Pura Puserin Jagat itu?
Kenyakinan Pura Pusering Jagat sebagai sthana Dewa Siwa dan sumbu utama Bali ini dilontarkan Pemangku Pura Puserin Jagat Dewa Ngakan Made Sama (69) ketika dihubungi Bali Post, Selasa (12/9) kemarin. Kendati begitu, Pura Pusering Jagat itu merupakan salah satu pura penting di Bali. ''Pura yang oleh masyarakat setempat juga disebut Pura Kelod ini memiliki status sebagai pura kahyangan jagat dalam kedudukannya sebagai sad kahyangan atau kahyangan jagad yang diklasifikasikan sebagai Pura-pura Padma Bhuwana yang berposisi di tengah sebagai stana Dewa Siwa,'' katanya. Sejak awal peradaban, Pura Puserin Jagat berada di Desa Pejeng, Tampaksiring. Pejeng, kawasan hunian dan terpilih sebagai pusat Kerajaan Bali Kuna. Diperkirakan kata ''pejeng'' berasal dari kata ''pajeng'' (payung) yang bisa dimaknai sebagai memayungi atau mengayomi. Penamaan itu terasa pas mengingat dari berbagai tinjauan dan kajian aspek-aspek kebenaran sejarah, teosofi dan teologi, Desa Pejeng merupakan pusat Kerajaan Bali Kuna yang secara otomatis pusat kerajaan itu memayungi masyarakat dan daerahnya. Namun, katanya, ada juga yang menduga kata ''pejeng'' berasal dari kata ''pajang'' (bahasa Jawa Kuna) yang berarti sinar. ''Jika hal itu dikaitkan dengan Pejeng sebagai pusat kekuasan, itu sangat pas untuk menggambarkan kedudukan Pejeng yang menyinari masyarakat dan kawasannya. Lebih-lebih jika hal itu dikait-kaitkan dengan keberadaan ''bulan'' Pejeng (nekara perunggu) di Pura Penataran Sasih yang juga berlokasi di Desa Pejeng,'' katanya seraya mengutip sejumlah referensi sejarah yang memuat tentang Pejeng. Lantas, bagaimana kedudukan Pura Pusering Jagat pada masa Kerajaan Bali Kuna lampau? Menurut tokoh masyarakat Putra Pemayun, pura yang berlokasi di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut ini bukan mustahil merupakan satu palebahan pura milik raja-raja Bali Kuna. Dengan kata lain, di pura inilah pusat ritual kekuasaan digulirkan. Dari sinilah sumbu utama perputaran spiritual Bali. ''Posisi pura ini memang sentris terhadap wilayah Bali sebagai sebuah pulau,'' katanya. Seperti termuat dalam lontar-lontar, katanya, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Penamaan itu akan mengingatkan masyarakat Hindu kepada cerita Adi Parwa yang mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirtha amertha (air kehidupan-red) di tengah lautan susu Ksirarnawa. Secara fisik, di kompleks Pura Pusering Jagat ini memang ada kolam maya yang berlokasi di hadapan arca utama di jeroan (halaman dalam) pura yang mengingatkan kita pada pengadukan Ksirarnawa oleh para dewa dan raksasa. ''Besar kemungkinan, nama Pusering Tasik itu muncul dari sana,'' ujar Putra Pemayun. Putra Pemayun menambahkan, masyarakat Bali meyakini Pura Pusering Jagat merupakan sthananya Dewa Siwa. Kenyakinan yang tidak mengada-ada mengingat cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa pura ini merupakan tempat pemujaan Sang Hyang Siwa. Hal itu terlihat dari peninggalan arca-arca yang tersimpan di pura ini yang bercirikan Siwa seperti arca Ganesha (putra Siwa), Durga (sakti Siwa) maupun arca-arca bhairawa. Salah satu kekhususan yang dijumpai di pura ini adalah adanya palinggih Ratu Purus dengan arca kelamin laki-laki dan perempuan. ''Fakta-fakta itu sangat sesuai dengan apa yang tertera dalam lontar-lontar yang menyatakan pura ini merupakan pura Padma Bhuana yang berkedudukan di tengah sebagai sthana Dewa Siwa,'' tegasnya. Ditambahkan, keberadaan Pura Pusering Jagat sebagai salah satu pura yang memiliki nilai sejarah yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali di masa lampau tidak bisa diragukan lagi. Di kompleks pura ini ditemukan berbagai bukti kepurbakalaan yang terdiri atas sejumlah peninggalan seni arca dan unsur-unsur kebudayaan prasejarah. Ada pun unsur-unsur kebudayaan prasejarah itu tercermin dari peninggalan susunan batu alam, batu titi ugal-agil, batu monolit, sejumlah arca dalam sikap jongkok dan fragmen lumpang batu. Sementara seni arca yang dijumpai di pura ini dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yakni kelompok arca dewa yang merupakan perlambang dewa tertentu dengan atributnya masing-masing dan arca pratisha (perwujudan) yang merupakan perwujudan leluhur dengan pakaian dan perhiasan seperti arca dewa tetapi tidak mempunyai atribut yang dapat dihubungkan dengan arca dewa tertentu. Ada pun ciri dari arca leluhur yang biasa digunakan adalah bunga kuncup atau mekar yang dipegang dan terkadang diganti dengan buah atau benda yang bulat lonjong. ''Banyak sekali peninggalan purbakala dijumpai di Pura Pusering Jagat ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu,'' tegasnya. Sejumlah arca penting yang pantas dikedepankan, katanya, adalah arca pancuran utama yang terbuat dari batu padas yang berlokasi di bagian timur laut kompleks pura. Arca berwujud tokoh manusia yang berdiri di atas lapik berbentuk bulat ini juga disebut angga tirtha. Kedua tangan arca memegang jaladwara (saluran air) yang keluar dari pusar. Barangkali, nama Pusering Jagat ini tidak terlepas dari keberadaan arca setinggi 180 cm itu. Di kompleks pura ini juga dijumpai sangku sudamala yang berupa bejana terbuat dari batu padas, arca Durga Mahissasuramardhini, empat arca Ganesha yang ditempatkan di sejumlah palinggih, dua buah arca Caturkaya (memiliki empat muka dan empat badan), dua buah arca perwujudan, empat buah arca jongkok dan masing-masing satu arca raksasa, arca penjaga dan arca singa. Tak kalah menariknya, di pura ini juga ditemukan sepasang arca kelamin yang ditempatkan di jajaran palinggih utama di jeroan tengah pura.
|
|||
| Last Updated ( Saturday, 05 April 2008 13:31 ) |
Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.
Go to forum