Home Dharma Yatra Pura Puserin Jagat Didirikan Saat Bali masih Bersatu
Pura Puserin Jagat Didirikan Saat Bali masih Bersatu PDF Print E-mail
Written by Agni Homa   
Thursday, 14 September 2006 06:10

Tumurun pwa Bhatara Siwa, angeka pada ring Mahameru tinut denira bhatara kang umungguh ring WatukaruBhatara Maha Dewa, ring Toh Langkir Bhatara Pasupati, ring Lempuhyang Bhatara Hyang Gnijaya, Ring Gowa Lawah Bhatara Hyang Basuki, ring Pusering Tasik Bhatara Hyang Amangkurat, muangring Uluwatu Bhatara AgniMahajaya.

(Kutipan Lontar Kusuma Dewa)

Maksudnya:

Turunlah Tuhan Siwa membumi di Mahameru diikuti oleh para Dewa yang distanakan di Batukaru Batara Maha Dewa, di Gunung Agung Batara Pasupati, di Lempuhyang Batara Hyang Gni Jaya, di Gowa Lawah Batara HyangBasuki, di Pusering Jagat Batara Amangkurat dan Uluwatu Batara Agni Maha Jaya (Rudra).



Pura Pusering Jagat berada di Desa Pejeng Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Pura Pusering Jagat ini tergolongpura yang sangat tua usianya. Di dalam pura ini terdapat banyak peninggalan purbakala. Pura Pusering Jagat ini dalam Lontar Kusuma Dewa disebut Pura Pusering Tasik sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan di Bali. Tidak dari sembilan lontar yang ada di Bali menyatakan tentang Sad Kahyangan yang berbeda-beda. kurang

Tahun 1979 pernah dilakukan penelitian tentang keberadaan Sad Kahyangan di Bali oleh tim peneliti IHD (Unhisekarang). Tim peneliti tersebut menetapkan Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa tersebutsebagai Sad Kahyangan di Bali. Hal itu dilakukan karena Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar KusumaDewa itu didirikan saat Bali masih bersatu dalam satu kerajaan dengan Mpu Kuturan sebagai Pandita Kerajaan.

Setelah Bali menjadi sembilan kerajaan, sepertinya tiap-tiap kerajaan di Bali memiliki Sad Kahyangan masing-masing. Hal inilah yang menyebabkan adanya beberapa lontar menyatakan adanya Sad Kahyangan yang berbeda-beda.

Dalam Lontar Kusuma Dewa itu Pura Pusering Jagat dinyatakan sebagai tempat pemujaan Batara Amangkurat. Artinya di Pura Pusering Jagat ini Tuhan dipuja sebagai dewa penuntun mereka yang sedang memangku jabatanmenata kehidupan rakyat. Penguasa itu akan mengabdi pada yang dikuasai apabila mereka yang berkuasa itu adalah mereka yang memiliki sikap hidup yang religius. Tanpa religiusitas yang kuat penguasa dapat berbuatsewenang-wenang pada rakyat yang dikuasainya. Di Pura Pusering Jagat ini palinggih yang paling utama adalah Palinggih Ratu Pusering Jagat.

Di samping itu terdapat palinggih yang disebut Gedong Purusa. Di palinggih ini terdapat simbol Purusa dan Pradanadigambarkan dengan alat reproduksi laki-laki dan perempuan. Dalam ajaran Samkhya Yoga, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan (Iswara) yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana benih-benih kebendaan. Melalui Purusa dan Pradana inilah Tuhan menciptakan kehidupan yang sejahterauntuk mengisi alam semesta ini. Hal ini juga berarti para penguasa yang memuja Tuhan di Pura Pusering Jagat ini diharapkan mendapatkan kekuatan spiritual untuk menyeimbangkan eksistensi Purusa dan Pradana agar terus bersinergi.

Dengan kuatnya sinergi Purusa atau unsur kejiwaan dengan Pradana unsur kebendaan maka akan terciptalahberbagai sumber kehidupan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahir batin. Swadharma utama parapenguasa rakyat (Sang Amangkurat) adalah mengupayakan terciptanya nilai-nilai kejiwaan dan kebendaan secaraberkesinambungan untuk membangun manusia dan masyarakat yang semakin berkualitas.

Di samping Palinggih Gedong Purusa ada Palinggih Ratu Sidakarya. Palinggih ini sebagai sarana memuja Tuhanuntuk menguatkan spiritualitas umat yang memuja Tuhan untuk mencapai keberhasilan dalam kerjanya (sidhakarya). Tujuan memuja Tuhan untuk meningkatkan etos kerja umat dalam menyelenggarakan kehidupannya.

Tujuan pemujaan Tuhan di Pura Sad Kahyangan di Bali memang untuk menegakkan Sad Kerti yaitu Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti. Sad Kerti itu enam upaya untuk menjagaeksistensi kesucian atman, fungsi samudera, hutan, sumber air, sistem sosial dan individu yang solid. Di timurGedong Purusa terdapat peninggalan kuno berbentuk bejana yang disebut sangku sudamala.

Bejana ini sebagai simbol wadah air suci untuk menyucikan hidup manusia. Karena dengan kesucian itulah dharma dapat ditegakkan dalam hidup ini. Di sangku sudamala ini ada gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251. Di sebelah kanan Pelinggih Sidakarya terdapat Pelinggih Catur Muka. Pelinggih ini sebagai media pemujaan Dewa CaturLoka Pala manifestasi Tuhan sebagai pelindung empat arah.

Lewat pemujaan Tuhan sebagai Catur Muka yaitu Dewa Iswara, Dewa Brahma, Dewa Maha Dewa dan Dewa Wisnu ini dimohonkan terciptanya sumber-sumber kehidupan berupa rasa aman dan sejahtera di semua penjurudunia. Hal ini dimaksudkan untuk memohon adanya pemerataan yang adil untuk memperoleh kehidupan yang amandan sejahtera di semua penjuru yang mesti diupayakan oleh mereka yang memegang jabatan untuk melayani publik atau jagat.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free social bookmarking plugins and extensions for Joomla! websites!
Last Updated ( Saturday, 05 April 2008 13:33 )
 

Member Forums

Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.

Go to forum
Visit Indonesia Year 2008