| Pura Ulun Swi Pinaka Uriping Sawah |
|
|
|
| Written by Agni Homa | |||
| Wednesday, 16 August 2006 18:07 | |||
|
Pura Ulun Swi di Desa Jimbaran adalah sebagai pusat Pura Ulun Swi di Bali. Pura Ulun Swi di Jimbaran itu memiliki beberapa pasimpangan utama yaitu Pasimpangan Pura Ulun Swi di Desa Seseh. Pura Pasimpangan Ulun Swi di Desa Seseh ini didirikan karena saat ada ketegangan hubungan antara Kerajaan Badung (Pemecutan) dan Kerajaan Mengwi maka Raja dan rakyat Mengwi sulit pergi ke Pura Ulun Swi Pusat di Desa Jimbaran. Karena itu Raja Mengwi mendirikan Pura Pasimpangan di Desa Sesetan, Kecamatan Mengwi. Pura Pasimpangan Ulun Swi juga terdapat di Klungkung, di Pura Sri Jong di perbatasan Tabanan dan Jembrana dan di Pura Pakendungan, Kediri, Kabupaten Tabanan.
Dalam diklat kumpulan hasil penelitian sejarah pura ada beberapa kutipan lontar yang dikemukakan tentang Pura Ulun Swi. Kutipan Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul menyatakan: Ikang aneng negara krama, ikang Sad Kahyangan puput nya mulih maring UlunSwi, rumaksa uriping sawah kabeh, ikang pwa dharma Ulun Swi dadi bandaning wong Bali. Artinya, adapun yang ada di masyarakat, Sad Kahyangan itu kumpulnya kembali di Ulun Swi menjadi jiwanya semua sawah. Adapun Pura Ulun Swi itu menjadi pemersatu orang Bali. Fungsi Pura Ulun Swi sebagai jiwanya semua sawah juga dinyatakan dalam Lontar Usaha Dewa. Dalam Lontar tersebut dinyatakan: Sang Hyang Bhakabumi anyeneng ring Ulun Swiika maka uriping sawah kabeh. Artinya, Sang Hyang Bhakabumi berstana di Ulun Swi beliauitu sebagai jiwanya semua sawah. Mengenai yang dipuja di Pura Ulun Swi ini antara Lontar Usana Dewa dengan Lontar Sri Purana. Kalau Lontar Usana Dewa menyatakan bahwa yang dipuja di Ulun Swi itu adalah Batara Bhakabumi. Sedangkan dalam Lontar Sri Purana menyatakan juga yang berstana di Pura Ulun Swi itu Batara Bhakabumi. Tetapi di bagian lain lontar tersebut menyatakan bahwa yang berstana Pura Ulun Swi adalah Batara Indra Bhumi. Dua nama dewa itu mungkin sebutan pada kemahakuasaan Tuhan untuk menyuburkan ibu pertiwi atau bumi. Karena dalam pantheon Hindu, Dewa Indra itu adalah dewa hujan. Pura Ulun Swi itu sebagai pura untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa hujan. Karena hujan yang teratur turun pada musimnyalah yang akan menjadikan sawah dan ladang itu berjiwa atau dapat menghasilkan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Dalam Lontar Babad Jimbaran dinyatakan bahwa ada kesatria bernama Dalem Petak Jingga sangat dimuliakan oleh rakyat Desa Jimbaran. Dalem Petak Jingga terus mendirikan MeruTumpang Solas dan dinamailah pura itu sebagai Pura Ulun Swi. Ada keturunan I Gusti NgurahTegeh Kori, karena sangat bakti pada Dalem Petak Jingga, maka keturunan I Gusti NgurahTegeh Kori itulah yang ditunjuk sebagai pemangku di Pura Ulun Swi itu. Dalam buku diktat kumpulan hasil penelitian sejarah pura dinyatakan bahwa Dalem Petak Jingga itu tiada lain adalah I Gusti Agung Dimade yang mengungsi dari Gelgel karena ada selisih paham dengan raja yang berkuasa saat itu. Ketika ada hubungan yang harmonis antara Kerajaan Mengwi dan Badung (Pemecutan) perawatan fisik dan ritual dari Pura Ulun Swi diserahkan kepada Kerajaan Badung. Pura Luhur Uluwatu kepada Puri Jero Kuta dan Pura Sakenan kepada Puri Kesiman. Upacara piodalan di Pura Ulun Swi di Desa Jimbaran ini dilakukan pada Purnamaning Sasih Kapat. Kalau upacara dalam tingkatan yang besar menurut ketentuan beberapa lontar menggunakan kerbau cemeng atau hitam. Ini lambang memohon kesuburan sawah dan ladang. Menurut Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul koleksi Geria Mandara Munggu menyatakan bahwa bila lalai melakukan upacara di Pura Ulun Swi maka akan menimbulkan ketidak berhasilan panen di sawah. Panenan akan hampa di periuk, sampai hampa dalam. Hal itu terjadi karena sari dari hasil sawah itu diambil kembali oleh Ida Batara GunungAgung. Hama wereng pun akan merajalela sampai ke tanaman yang lainnya akan terserang berbagai jenis hama. Lontar Usana Dewa juga menyatakan bahwa jika tidak dilakukan upacara di Pura Ulun Swi, Pura Masceti, Pura Rambut Sadhana maka ibu pertiwi tidak berhasil memberikan hasil yang baik. Hasil bumi semuanya akan hampa tidak ada amertha-nya atau tidak memberikan daya hidup. Hama akan merajalela. Demikian dinyatakan dalam beberapa lontar tentang Pura Ulun Swi itu. Hal itu pada zaman modern ini patut ditafsir ulang dengan daya nalar yang lebih dalam dan luas. Dalam konsep beragama Hindu, ritual itu bukanlah sesuatu yang selesai. Ritual adalah langkah awal untuk melakukan bakti kepada Tuhan. Setelah ritual ada hal-hal yang dipesan dalam ritual itu untuk dilanjutkan dalam perbuatan nyata. Prosesi ritual sebagai suatu proses untuk menajamkan kekuatan spiritual sebagai jiwa dari suatu perbuatan. Berbuat tanpa dasar kekuatan spiritual akan mudah goyah. Karena itu apa yang dimaksudkan dalam lontar tentang upacara di Pura Ulun Swi harus diartikan sebagai suatu hal yang harus kita lakukan secara utuh dari ritual sebagai proses menguatkan daya spiritual, kuatnya daya spiritual itulah yang dijadikan landasan untuk diaktualkan secara kontekstual. Dengan demikian, untuk menjaga agar sawah dan ladang tetap berjiwa memberikan hasil bumi melimpah sebagai sadhana atau sarana hidup yang tumbuh bagaikan rambut tak terhitung jumlahnya memberikan kemakmuran pada rakyat banyak. Karena apa yang dinyatakan dalam lontar itu sebagai dasar melakukan langkah niskala dan sekala untuk menjiwai sawah dan ladang.
|
|||
| Last Updated ( Saturday, 05 April 2008 13:35 ) |
Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.
Go to forum