|
Di Desa Pakraman Kembang Merta, Kecamatan Baturiti, Tabanan di salah satu bukitnya terdapat pura yang disebut Pura Luhur Puncak Sangkur yang juga disebut Pura Puncak Resi. Mengapa disebut Pura Pucak Sangkur karena pura itu berdiri di Bukit Sangkur.
Pura ini juga disebut Pura Pucak Resi karena di pura ini dibangun oleh Ida Sang Resi Madura dari Gunung Raung, Jawa Timur dan dikembangkan oleh Ida Resi Sagening. Ida Resi Sagening ini juga dinyatakan moksha di pura ini. Demikian dinyatakan dalam Lontar Purana Pucak Resi. Yang dipuja di Pura Pucak Sangkur ini adalah Ida Batara Hyang Pasupati atau Batara Siwa sendiri. Di Pura Luhur Pucak Sangkur, Ida Batara Hyang Pasupati dipuja di Pelinggih Gedong sebagai pelinggih utama. Menurut pandangan ajaran Hindu, areal berupa pegunungan, lereng sampai datarannya harus dipelihara sebagai hutan. Di Bali dikenal adanya hutan dengan nama Alas Angker, Alas Arum, Alas Rasmini dan Abian. Seluruh hutan tersebut berfungsi untuk menguatkan eksistensi sawah atau carik sebagai areal untuk memproduksi bahan pangan pokok untuk kebutuhan hidup manusia. Dalam kitab Panca Wati dinyatakan hutan itu ada tiga fungsinya yaitu Maha Wana, Tapa Wana dan Sri Wana. Maha Wana itu adalah hutan lindung yang tidak boleh dibangun apa pun di areal hutan yang disebut Maha Wana itu. Hal yang boleh dilakukan dalam hutan Maha Wana itu hanyalah dalam rangka menyuburkan untuk pelestarian hutan itu sebagai hutan. Tidak boleh untuk yang lain. Sedangkan hutan yang tergolong Tapa Wana hanya boleh dibangun pertapaan dalam wujud tempat pemujaan atau pura serta pasramannya. Hutan yang tergolong Sri Wana adalah hutan yang dijadikan areal menanam tumbuh-tumbuhan pangan sesuai dengan keadaan tanah hutan tersebut.
Bukit Pucak Sangkur di Desa Kembang Merta ini dapat digolongkan hutan Tapa Wana. Sangat tepatlah di bukit Pucak Sangkur ini dibangun Pura Resi sebagai pertapaan orang suci sebagai Bhagawanta-nya negara. Karena dalam areal yang hening ini para Brahmana dengan sisya kerohaniannya dapat melakukan tapa brata-nya. Melakukan tapa brata merupakan swadharma utama dari para resi. Dengan tapa brata itulah seorang resi akan dapat inspirasi suci menyangkut kehidupan umat manusia di bumi ini.
Lewat keheningan dalam tapa brata di areal Tapa Wana itulah berbagai tuntunan hidup kepada para Ksatria, Waisya maupun Sudra. Agar inspirasi suci terus dapat mengalir melahirkan berbagai kebijakan untuk mengatur kehidupan di dunia ini, hendaknya hutan yang tergolong Tapa Wana ini jangan sampai dialihfungsikan untuk kepentingan lain. Karena lewat suasana hening di Tapa Wana akan dilahirkan pemikiran-pemikiran yang arif bijaksana untuk menuntun kehidupan bersama di bumi ini.
Bukit Pucak Cangkur ini ada kaitannya dengan berbagai Pura Kahyangan Jagat di Bali. Dalam Lontar Tantu Pagelaran diceritakan secara mitologis bahwa Gunung Maha Meru di India, puncaknya menjulang sangat tinggi hampir menyentuh langit. Kalau langit sampai tersentuh oleh puncak Gunung Maha Meru itu maka alam ini pun akan hancur lebur. Saat itu Jawa dan Bali dalam keadaan guncang atau disebut enggang enggung.
Hyang Pasupati memotong puncak Maha Meru tersebut terus dibawa ke Jawa. Pecahan puncak tersebut ditaburkan dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Pecahan Maha Meru itulah yang menjadi gunung-gunung yang berderet dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Di Jawa Timur puncak Maha Meru itulah menjadi Gunung Semeru. Setelah itu Pulau Jawa menjadi tenang. Tetapi Bali masih enggang-enggung atau guncang. Karena itu, Hyang Pasupati terbang ke Bali membawa puncak Gunung Maha Meru tersebut.
Puncaknya sekali menjadi Gunung Agung, bagian tengahnya menjadi Gunung Batur dan dasarnya menjadi Gunung Rinjani di Lombok. Serpihan-serpihannya menjadi gunung-gunung kecil dan bukit-bukit yang mengelilingi Pulau Bali. Setelah itu Bali menjadi tenang. Gunung-gunung kecil itu antara lain menjadi puncak Mangu, Teratai Bang, Gunung Tampud, Lempuhyang, termasuk Bukit Pucak Sangkur tempat didirikannya Pura Pucak Resi itu.
Dalam Lontar Purana Pura Pucak Resi diceritakan di zaman dahulu ada seorang suci bernama Ida Sang Resi Madura berasal dari Gunung Raung, Jawa Timur. Beliau Sang Resi juga disebut sebagai Acarya Kering. Ida Sang Resi Madura ini sering mengadakan perjalanan bulak-balik Jawa-Bali. Suatu hari dalam Yoga Semadinya Sang Resi mendapatkan suara niskala yang menugaskan Sang Resi agar menuju Danau Beratan. Sang Resi pun mengikuti suara gaib tersebut. Sang Resi diiringi oleh pembantunya bernama I Patiga. Sampai di Bali, Sang Resi menuju puncak bukit.
Di puncak bukit itulah Ida Sang Resi Madura membangun pura dengan nama Parhyangan Pucak Resi sebagai pemujaan Batara Hyang Siwa Pasupati. Setelah itu Sang Resi Madura ini mengadakan perjalanan menuju ke puncak Teratai Bang, Bukit Watusesa sampai ke Bukit Asah.
Diceritakan I Ratu Ayu Mas Maketel di Nusa Penida saat mengadakan upacara Ngeraja Sewala mendatangkan seorang pandita dari Maja Langu untuk memimpin upacara tersebut. Pandita ini bernama Ida Resi Sagening kedaratan Bali dan bermukim di Munduk Guling Klungkung. Di tempat ini beliau banyak punya pengikut. Sang Resi kena fitnah dan dikatakan akan merebut kekuasaan raja di Linggarsapura. Sang Resi pun mau dihukum mati.
Untuk menghindari hukuman itu, Ida Resi Sagening pindah ke Bukit Asah diiringi oleh sisya-sisya-nya. Di Bukit Asah inilah beliau membangun pasraman. Atas petunjuk niskala yang diterima oleh Ida Ratu Ngurah Wayan Sakti agar Pura Puncak Asah di-pralina. Karena demikian halnya Ida Resi Sagening mohon dibuatkan Siwapakarana dan disimpan di Pasraman Taman Sari. Di pura inilah juga Ida Resi Sagening mencapai moksha.
Upacara Pujawali di Pura Luhur Pucak Sangkur ini pada hari Budha Kliwon Sinta yaitu Rerainan Pagerwesi. Pada hari raya ini dipuja Batara Siwa sebagai Sang Hyang Paramesti Guru yaitu memuja Tuhan sebagai Maha Guru alam semesta. Jadinya sesuai dengan yang di Pura Pucak Sangkur yaitu Tuhan sebagai Hyang Siwa Pasupati.
|