Home Dharma Yatra Pura Tawang Alun
Pura Tawang Alun PDF Print E-mail
Written by Agni Homa   
Thursday, 13 April 2006 07:43

Pesraman Widia Karana terletak di Desa Buluagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, sebagian besar siswanya tergolong tingkat Sekolah Dasar (SD). Ssitem pendidikan agama salah satu di antaranya lewat kegiatan tirta yatra. Kegiatan tirta yatra di Pesraman Widya Karana telah diagendakan secara rutin setiap menjelang atau pada saat libur semester. Untuk kali ini dilaksanakan tepat pada tilem sasih ke pitu, sehari setelah hari suci Siwaratri atau Maha Siwaratri pada 21 Januari 2004 bertempat di Pura Tawang Alun. Pada hari Siwaratri tersebut diyakini sebagai hari yang baik untuk melebur dosa-dosa atau mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa (atma paramatman), sesuai dengan tuntunan sastra Weda untuk menanamkan srada siswa sejak dini.

Pura Tawang Alun merupakan lokasi yang baik untuk bertirta yatra. Lokasi pura terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, kurang lebih 15 km dari Pesraman menuju arah barat daya. Nama Pura Tawang Alun mengandung unsur filsafat, dari kata Tawang dan Alun. Tawang berarti langit dan alun berarti air laut (pertiwi), melambangkan unsur purusa dan pradana.

Kegitan tirta yatra ini diikuti oleh beberapa tokoh umat (pengemong pura) dan guru agama Hindu antara lain: K. Suyono sebagai pembina, Subari, Misni Hariyadi. Jumlah siswa yang mengikuti tirta yatra sebanyak 41 siswa dari kelas empat hingga kelas enam.

Tirta yatra ini dirangkai dengan beberapa acara yang telah diprogram khusus, beberapa acara di lapangan atau semacam study tour antara lain: persembahyangan bersama, pendidikan kilat (studi) dan olah raga (yoga semadi).

Untuk persembahyangan dilaksanakan dengan penuh hikmat, dipimpin oleh romo mangku setempat yaitu Midi, sedangkan pendidikan dilaksanakan di madya mandala pura, yaitu di bale gong, dengan dipandu oleh Subari dan  Ketut Nerta selaku pembina. Materi yang disampaikan adalah:  Tentang sejarah berdirinya pura, fungsi dan status pura,  struktur pura, dan ingkungan lokasi pura.

Untuk lebih mengenal keberadaan pura para siswa diperkenalkan dengan lingkungan pura, dalam hal ini para siswa sangat antusias dan responsif mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Subari.

Ternyata Pura Tawang Alun ini menampakkan gejala historis, sebagaimana terungkap dalam sejarah mitologi geografisnya. Pura Tawang Alun lokasinya menampakkan unsur "Nyegara Gunung" dengan pengertian, dari segara (laut) nampak gunung dan dari gunung nampak segara (laut), dengan kata lain dari pura dapat melihat gunung dan sekaligus melihat segara (laut).

Di sebelah selatan nampak laut lepas, tanpa tepi atau laut selatan dan terlihat palau‑pulau kecil yang sangat terjal tanpa penghuni serta tanahnya merah, oleh penduduk setempat diberi nama Pulau Merah. Secara mitologi juga Pulau Merah ini mengandung unsur magis sebagai tempat bertapa.

Di sebelah tenggara terlihat Gunung Tumpang Pitu, namanya konon menurut mitologi, Gunung Tumpang Pitu adalah Meru Tumpang Tujuh linggih Hyang Siwa (Hyang Iswara).

Di sebelah timur terlihat persawahan dan perkebunan yang sangat subur dan terdapat juga sungai kecil oleh penduduk setempat disebut sungai Gonggo atau Gangga. Konon menurut mitologi Sungai Gonggo atau Gangga diyakini sebagai anak sungai suci Gangga di lndia. Atas dasar mitologi ini diperkirakan pada ribuan tahun lalu di daerah ini pernah berkembang agama Hindu yang sangat pesat.

Di sebelah utara adalah rumah penduduk yang ramah dan toleransi umat sangat kuat. Di sebelah barat membentang pesisir pantai dengan panorama yang sangat indah, Pedukuhan Pancer sebagai pantai nelayan yang terkenal di wilayah Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi bagian selatan. Secara mitologi nama Pancer diyakini sebagai pusatnya bumi.

Sedangkan untuk kegiatan olah raga, kami lakukan di pantai dengan kegiatan acara di lapangan sebagai berikut: meditasi gayatri, beberapa yoga asanas, dipadukan dengan ilmu dan seni bela diri.

Demikianlah sekilas menyikapi lokasi lingkungan Pura Tawang Alun dalam rangka kegiatan tirta yatra yang ternyata mengandung unsur filsafat, magis mitologis, sekaligus menampakkan kesucian religius. Sehingga sangat perlu dijaga kesucian dan kelestariannya untuk generasi berikutnya.


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free social bookmarking plugins and extensions for Joomla! websites!
Last Updated ( Saturday, 05 April 2008 13:28 )
 

Member Forums

Silahkan menggunakan forum untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda.

Go to forum
Visit Indonesia Year 2008